quicknews.id Lombok Timur NTB—Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) program Pojok Jurnalis membedah Disertasi Doktoral Model SIPETAS Penurunan Stunting di Lombok Timur, Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, Selong Selasa Malam, 6 Januari 2026.
Sekda Kabupaten Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik memaparkan bahwa Sinergi Peran Tokoh Lokal dalam Akselerasi Penurunan Stunting (SIPETAS) penanganan stunting selama ini terjebak pada pendekatan administratif dan prosedural (Output), namun lemah pada dampak nyata di tingkat keluarga. (Outcome).
“Kita punya regulasi, anggaran, dan struktur birokrasi, tapi faktanya stunting masih tinggi” jelas Kak Ofik panggilan sehari-harinya.
Berdasarkan pengalaman risetnya saat menyusun Disertasi dirinya tinggal bersama keluarga berisiko stunting di Masbagik dan Kembang Kuning. Ia menemukan fakta bahwa faktor penyebab bukan hanya ekonomi, tapi juga stigma sosial dan kurangnya edukasi.
“Adanya ibu yang tidak menyusui bayinya bukan karena tidak mampu, melainkan karena persepsi sosial yang keliru atau kesibukan yang tidak terarah” jelasnya.
Sebagai antitesis dari model konvensional, Juaini memperkenalkan model Sinergi Peran Tokoh Lokal dalam Akselerasi Penurunan Stunting (SIPETAS) Model ini mengintegrasikan teori implementasi kebijakan George C. Edward III (Sumber Daya, Birokrasi, Disposisi, Komunikasi) dengan kekuatan Modal Sosial dan Kearifan Lokal.
Tidak hanya mengandalkan petugas kesehatan, tapi menjadikan Tuan Guru, tokoh adat, dan komunitas sebagai aktor utama.
Pertama, Komunikasi berbasis budaya, mengatasi kendala bahasa dan resistensi masyarakat di daerah terpencil melalui pendekatan yang lebih persuasif dan agamis.
Selanjutnya yang Kedua, keberlanjutan tanpa anggaran, menanamkan kesadaran perilaku sehingga program tetap berjalan meskipun anggaran daerah sedang terbatas.
Terakhir, Ketiga, adaptif dan kontekstual menyesuaikan pola penanganan antara wilayah perkotaan dan perdesaan yang memiliki karakteristik sosial berbeda.
Disertasi berjudul “Model Implementasi Kebijakan Penurunan Stunting di Kabupaten Lombok Timur” ini menjadi sorotan karena menawarkan solusi atas fenomena “Stagnasi data stunting. Meski pemerintah telah melakukan intervensi masif, Lombok Timur tercatat masih berada di peringkat 9 dari 10 kabupaten, Kota di Provinsi NTB dalam penanganan stunting.
Bedah disertasi ini menghadirkan panelis kompeten seperti Dr. Amrullah (Staf Ahli Gubernur NTB), Saparwadi (Aktivis), serta beberapa tokoh agama dan peneliti sosial.
Panelis menyoroti bahwa model ini mampu menjawab tantangan “Normal Baru vs Nilai Lama” di negara berkembang seperti Indonesia, kepatuhan masyarakat terhadap tokoh informal seringkali lebih tinggi dibandingkan kepada birokrasi formal. SIPETAS dinilai mampu menjembatani celah tersebut.
Disertasi dibedah oleh para jurnalis dan ahli di daerah, disertasi ini dijadwalkan akan diuji dan dipertanggungjawabkan dalam Sidang Terbuka Program Doktoral di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Jumat, 9 Januari 2026 mendatang.
Ia berharap, temuan risetnya ini tidak hanya menjadi pajangan di perpustakaan, tetapi dapat diadopsi sebagai kerangka operasional resmi dalam dokumen Rerencanaan Pembangunan Jangka Mengah Daerah (RPJMD) guna menciptakan masa depan generasi yang bebas stunting di Lombok Timur. (qn*)