quicknews.id Lombok Timur NTB—Kampus Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH ) Pancor melangsungkan Visiting Lecturer dan Ngaji Akademik yang dihadiri oleh Civitas Akademika Khususnya Dosen IAIH Pancor, Rabu, 12 Agustus 2026.
Narasumber yang mengisi kegiatan adalah Prof.Dr. Muhammad Husnur Rofiq M.Pd. Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.
Ia juga pernah menjabat sebagai Rektor AIN Jember periode 2024-2012 juga dikenal aktif dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam.
Prof. Muhammad Husnur Rofiq menyampaikan betapa pentingnya para dosen terus belajar dan memperbaharui ilmu pengetahuan dan melalui literasi maupun pengembangan keilmuan atau meningkatkan kapasitas diri.
Menurutnya tokoh Hamzanwadi dapat menjadi inspirasi bagi dosen IAIH Pancor dalam melakukan transformasi dan merevitalisasi nilai-nilai perjuangan serta keilmuan yang diwariskan Maulana Syekh TGKH. Muhammad Zinuddin Abdul Mdjid.
Acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dosen dalam menjalankan tugas penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selanjutnya pemateri ke 2 yakni, Direktur Pascasarjana IAI Hamzanwadi Pancor, Prof. Dr. Muhammad Taufik, M.Ag., menjelaskan bahwa profesi dosen harus dipandang sebagai bagian dari ibadah karena mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada mahasiswa dan masyarakat.
“Ilmu yang bermanfaat kepada orang lain merupakan profesi mulia. Karena itu, dosen dituntut untuk menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh serta terus belajar meningkatkan kompetensi,” terangnya.
Profesi dosen adalah bagian dari ibadah yang mulia, yakni mengajarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada sesama.
Menurutnya, semakin tinggi kapasitas seorang dosen, semakin besar pula manfaat ilmu yang dapat diberikan kepada mahasiswa dan masyarakat.
Terkahir, Wakil Rektor I, IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd, mengatakan, kegiatan ini untuk memaksimalkan peran profesi sebagai dosen, civitas akademika IAIH Pancor memiliki banyak teladan yang dapat dijadikan rujukan dalam menjalankan profesi sebagai dosen, khususnya dari sosok pendiri Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah, Maulana Syekh, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Sosok Maulana Syekh merupakan ulama besar kharismatik, mursyid sekaligus pahlawan yang meninggalkan nilai-nilai perjuangan dan akademik yang relevan untuk terus dikaji serta diteladani oleh para dosen.
“Perjuangan dan nilai-nilai akademik yang ditinggalkan Maulana Syekh sangat lengkap untuk kita kaji dan kita tiru dalam menjalani profesi sebagai seorang dosen,” jelasnya.
Menurutnya, tradisi akademik dan keilmuan harus terus dihidupkan di lingkungan IAI Hamzanwadi Pancor. Terlebih, nama besar Hamzanwadi melekat dengan sosok ulama dan ilmuwan yang memiliki reputasi luas, baik dalam dunia keislaman maupun dalam konteks ke-Indonesiaan.
“Civitas akademika IAI Hamzanwadi Pancor, menghidupkan tradisi belajar dan memaksimalkan profesi dosen kapan pun dan di mana pun merupakan bagian dari meneruskan perjuangan, Maulana Syekh TGKH. Hamzanwadi,” ucapnya. (bur*)